KITA


Kondangan Sampai Isya.  

KITA

Bukan 2 orang yang sedang jatuh cinta.
Kita hanya kebetulan dipertemukan.
Saat aku butuh teman bertukar cerita.
Sedangkan kamu butuh hiburan semata.

Selamat istirahat hati.

Sabtu, 13 Juli 2019.
Metro, Lampung.
23:51.
IF.
————————————————————

Tidak tidak tidak! 
Semua masih sama. 

Dia masih teman saya...
Yang tidak sengaja saling mengenal, namun dengan secara sadar memutuskan untuk berteman.
Yang mulai saya ketahui sejak masih berseragam putih-biru dari sahabat saya, namun baru mulai tahu yang mana orangnya ketika sudah berseragam putih-abu.
Yang pertemuan pertamanya di rumah sakit dekat sekolah saya, namun momen itu awalnya hanya diingat sepihak oleh saya.
Yang pertemuan ke-duanya tidak sengaja saya melihat dia lewat saat saya tengah berada pada acara di sekolahannya, namun dia tidak melihat saya.
Yang pertemuan ke-tiganya di acara pernikahan kakak dari sahabat saya yang juga teman dia, namun dia baru sadar bahwa itu bukan pertemuan pertama kami.
Yang keesokan harinya tiba-tiba nge-DM akun Instagram pribadi saya dan mengirimi saya nomor Whatsapp-nya dengan motif ingin meminta video rekaman dirinya saat bernyanyi duet di panggung dengan sahabat saya, pada kondangan tempo hari. 

Semua masih baik-baik saja, percayalah. 
Tidak ada yang berubah.
Jadilah teman yang baik seperti dia menjadi teman baik buatmu!

Huft..
Baik.. Baik.. 
Sudah cukup.
Semua harus saya bawa netral. 

Toh saya yang dari awal kekeh melabeli "kami" menjadi "teman" agar menghindari perasaan yang tidak-tidak kan? 

Kebanyakan mikir capek ah. 
Ini pasti karena banyak faktor. 
Tidak mungkin benar timbul rasa. 
Saya kan seharusnya sudah mati rasa. 
Perasaan saya sudah dikurung di tempat terpencil. 
Jadi tidak perlu khawatir.
Tidak mungkin mudah ditemukan.

Oo iyaa saya jadi ingin sedikit cerita tentang acara kondangan tempo hari. 

Saya datang bersama sahabat cowok. 
Dan sahabat saya di sana —yang kakaknya nikahan— juga cowok. 
Jadilah saya cewek sendiri.

Kalau tidak salah saya dan sahabat saya datang sehabis dzuhur. 
Sampai di sana makan dan lanjut mengobrol. 
Tak terasa ashar datang kemudian sampailah waktu menghantarkan dia datang ke kondangan itu juga. 
Dalam benak saya "Oh, yang waktu itu ketemu di rumah sakit"

Karena kedua sahabat saya memang mengenal dia, jadilah mau tidak mau saya juga ikutan nimbrung ke dalam obrolan mereka, dari pada saya diam saja kan.
Disambi dengan kedua sahabat saya yang makan (lagi), menemani dia yang baru datang,  karena dia tidak mau makan jika yang lain tidak makan. 
Saya tidak ikut-ikutan, bukan karena tidak diajak tentunya, bahkan dialog antar saya dan dia baru tercipta karena dia mengajak saya makan. Jadi saya memang tidak ingin makan lagi aja gitu. 

Hujan juga beberapa kali datang menyapa. 
Hingga mengurungkan niat kami untuk bersegera pulang.
Seakan Semesta mau kami lebih lama lagi bersanda-gurau.
Tanpa saya sadari, kaos kaki yang saya kenakan pada saat itu mulai mengeriputkan kulit kaki saya.
Sangking tidak sadarnya lagi, waktu lebih melesat cepat. 

Benar-benar tak menyangka langit mulai menggelap.
Dan kami masih belum beranjak dari sana. 
Entah sudah berapa pempek dan minuman sirup-sirupan telah ludes terjamah.
Yaa namanya juga ibarat tamu utama tuan rumah, walau tuan rumah yang dimaksud itu adik dari yang tengah duduk di pelaminan, hehe.

Yaa magrib pun lewat, sampai ke isya, seperti jam-jam sholat sebelumnya, isya pun mereka bergegas ke masjid, menyisakan saya —yang sedang tidak sholat— duduk sendiri seperti anak ilang yang mulai kedinginan karena udara sejuk selepas hujan masih tertinggal. 

Niatnya sehabis ini kami mau pamit pulang, namun tak disangka kepulangan kami dipersulit, awal mula tidak diizinkan pulang, kemudian disuruh menginap, sampai syarat boleh pulang kalau sudah menyumbangkan suara diatas panggung. 

Bagian ini tidak mau saya ceritakan, terlalu menggelikan. 
Yang jelas sampai keesokan harinya kaki saya masih pada bentol dan gatal.

Setelah menyelesaikan hal yang tentunya tak mau saya ulangi lagi, kami pun pamitan kemudian pulang.

Saya dan sahabat saya memang berangkat satu motor, dan dia berangkat dengan motor sendiri, akhirnya malah jadi sama-sama mengantar saya pulang.
Baru kemudian mereka berdua pulang beriringan.
Yaa, setelah baru beberapa kali tidak sengaja bertemu, dia langsung tau rumah saya :)


0 komentar:

Posting Komentar